NA'AT DAN MAN'UT
B. Pembahasan
1. Pengertian Na’at dan Man’ut
Na’at (sifat) adalah
lafazh yang mengikuti pada lafazh yang di ikutinya, baik dalam hal rofa’,
nashob, khofdh (jer), ma’rifat, maupun nakirohnya. Sedangkan isim yang disifati
disebut man’ut.
Na'at dalam
bahasa indonesia biasa disebut kata sifat, sedangkan man'ut adalah kata yang
disifati.[1]
Na’at dibagi
menjadi dua, yaitu:
a.
Na’at
Haqiqiy.
Yaitu na’at yang
menjelaskan salah sifat dari beberapa sifatnya matbu’ atau maushuf.
Contoh: جَاءَ خَالِدٌ اَلْأَدِيْبُ (telah datang kholid yang bertatakrama). “Yakni lafazh اَلْأَدِيْبُ
menjelaskan salah satu sifatnya kholid, yang mungkin ganteng, dermawan,
kaya, pandai dll.”
Na’at haqiqiy
wajib mengikuti man’utnya (maushufnya) dalam hal i’rob (yakni rofa’, nashob,
jer), ifrod (arti satu), tatsniyah, jamak, ta’rif dan nakiroh, tadzkir dan
ta’nits.
Maksudnya,
apabila man’ut nakiroh maka na’at harus nakiroh, apabila man’ut ifrod maka
na’at harus ifrod, apabila man’ut terbaca rofa’ maka na’atnya harus terbaca
rofa’, apabila man’ut terbaca nashob maka na’at harus terbaca nashob dll.
Contoh
Rofa’: قَائِمٌ جَاءَ رَجُلٌ (laki-laki yang berdiri telah dating)
جَاءَ زَيْدُ اَلْقَائِمُ (zaid yang berdiri telah dating)
Contoh
Nashob:
رَاَيْتُ رَجُلًا قَائِمًا (aku
telah melihat satu laki-laki yang berdiri)
رَأَيْتُ زَيْدًا
القَئِمَ(aku telah melihat satu zaid yang berdiri)
Contoh
jer:مَرَرْتُ بِرَجُلٍ
قَائِمٍ (aku telah berjumpa laki-laki yang berdiri)
مَرَرْتُ بِزَيْدٍ اَلْقَائِمِ (Aku
telah berjumpa zaid yang berdiri)
b.
Na’at
Sababiy.
Yaitu na’at yang
menjelaskan salah sifat dari sifat-sifatnya lafal yang berada setelahnya yang
masih ada kaitan atau hubungan dengan matbu’nya atau maushufnya.
Contoh
: ءَ الرجُلُ الحَسَنُ
خَطُهُ جَا (telah
datang laki-laki yang tulisannya bagus).
Lafald
اَلْحَسَنُ tidak
menjelaskan sifatnya اَلرجُلُ akan
tetapi menyifati حَطُهُ
Na’at sababy
wajib mengikut man’utnya hanya dalam hal I’rob (yakni rofa’, nashob, jar),
ta’rif dan nakiroh.
Sedangkan keberadaan
na’at wajib ifrod. Untuk ta’nitsnya dan tadzkirnya mengikuti keadaan fa’ilnya,
apabila fa’ilnya muannats maka na’at/sifat di ta’nitskan, apabila fa’ilnya
mudzakar maka na’at/sifat di tadzkirkan sebagaimana fi’il tergantung keadaan
fa’ilnya.
2.
Pembuatan Na’at
Lafazh-lafazh yang biasa ditarkib na’at
terbuat dari:
1)
Isim
Musytaq
Adalah isim yang menunjukkan makna
pekerjaan atau sifat serta pelakunya, dan menyimpan maknanya fi’il serta
hurufnya.
Seperti:
a.
Isim
fa’il
Contoh: هَذَا رَجُلٌ ضَارِبٌ عَبْدًا (ini
laki-laki yang memukul hamba sahaya)
b.
Isim
maf’ul
Contoh:
هَذَا عَبْدٌ
مَضْرُوْبٌ (ini hamba sahaya yang
dipukul)
c.
Isim
tafdhil
Contoh:
مَرَرْتُ بِرَجُلٍ
اَعْلَمُ مِنْكَ (saya
telah bertemu laki-laki yang lebih alim dari kamu)
d.
Sifat
musyabbihat
Contoh:
رَأَيْتُ رَجُلاً
حَسَنَ الْوَجْهِ (saya
melihat laki-laki yang tampan wajahnya)
e.
Amtsilah
mubalaghoh
Contoh:
هَذَا رَجُلٌ ضَرَابٌ
(ini laki-laki yang sering memukul)
2)
Lafazh
Muawwal
Adalah lafalzh yang tidak bisa ditasrif
yang memiliki makna yang dimiliki lafazh musytaq, dan mengandung makna fi’il,
tidak hurufnya.
Seperti:
a.
Isim
isyaroh.
Contoh:أَى الْحَضِرِ مَرَرْتُ بِزَيْدٍ هَذَا (saya telah berjumpa zaid yang ini)
b.
Isim
maushul.
Contoh:
مررت بزيد الذى قام أى المعلوم(aku telah berjumpa zaid yang berdiri)
c.
Isim
nisbat (isim yang kemasukan ya’ nisbat).
Contoh:
مررت برجل دِمَشْقِيٍ
اى المنسوب بدمشق (aku telah berjumpa
laki-laki bangsa Damaskus)
d.
Isim
jamid yang dimaksud arti majaz.
Contoh:
رَجُلاً اَسَداً اى
شُجَاعًارايت (aku telah melihat
laki-laki pemberani)
e.
Mashdar.
Contoh:
جَائَنِى رَجُلٌ عَدْلٌ
اى عَادِلٌ (telah datang padaku
seorang laki-laki yang adil)
f.
Jumlah
(baik fi’liyah maupun ismiyyah).
Contoh:
قُواْ يَوْمًا تُرْجَعُوْنَ
فِيْهِ اِلَى الله اى رَاجِعِيْنَوَاتَ
(takutlah pada hari kiamat yang mana kamu akan kembali kepada Allah pada
hari itu)
رَاَيْتُ رَجُلًا هُوَ مَضْرُوْبٌ اى الْمَضْرُوْبُ (saya melihat zaid yang dipukul).[3]