Jumat, 03 Juni 2016

NA'AT DAN MAN'UT

NA'AT DAN MAN'UT

                  B.  Pembahasan
1.   Pengertian Na’at dan Man’ut
Na’at (sifat) adalah lafazh yang mengikuti pada lafazh yang di ikutinya, baik dalam hal rofa’, nashob, khofdh (jer), ma’rifat, maupun nakirohnya. Sedangkan isim yang disifati disebut man’ut.
Na'at dalam bahasa indonesia biasa disebut kata sifat, sedangkan man'ut adalah kata yang disifati.[1]
Na’at dibagi menjadi dua, yaitu:
a.    Na’at Haqiqiy.
Yaitu na’at yang menjelaskan salah sifat dari beberapa sifatnya matbu’ atau maushuf.
Contoh: جَاءَ خَالِدٌ اَلْأَدِيْبُ (telah datang kholid yang bertatakrama). “Yakni lafazh  اَلْأَدِيْبُ  menjelaskan salah satu sifatnya kholid, yang mungkin ganteng, dermawan, kaya, pandai dll.”   
Na’at haqiqiy wajib mengikuti man’utnya (maushufnya) dalam hal i’rob (yakni rofa’, nashob, jer), ifrod (arti satu), tatsniyah, jamak, ta’rif dan nakiroh, tadzkir dan ta’nits.
Maksudnya, apabila man’ut nakiroh maka na’at harus nakiroh, apabila man’ut ifrod maka na’at harus ifrod, apabila man’ut terbaca rofa’ maka na’atnya harus terbaca rofa’, apabila man’ut terbaca nashob maka na’at harus terbaca nashob dll.
Contoh Rofa’:   قَائِمٌ  جَاءَ رَجُلٌ  (laki-laki yang berdiri telah dating)
جَاءَ زَيْدُ اَلْقَائِمُ  (zaid yang berdiri telah dating)
Contoh Nashob:
رَاَيْتُ رَجُلًا قَائِمًا (aku telah melihat satu laki-laki yang berdiri)
              رَأَيْتُ زَيْدًا القَئِمَ(aku telah melihat satu zaid yang berdiri)
Contoh jer:مَرَرْتُ بِرَجُلٍ قَائِمٍ    (aku telah berjumpa laki-laki yang berdiri)
مَرَرْتُ بِزَيْدٍ اَلْقَائِمِ (Aku telah berjumpa zaid yang berdiri)
b.    Na’at Sababiy.
Yaitu na’at yang menjelaskan salah sifat dari sifat-sifatnya lafal yang berada setelahnya yang masih ada kaitan atau hubungan dengan matbu’nya atau maushufnya.
Contoh : ءَ الرجُلُ الحَسَنُ خَطُهُ  جَا (telah datang laki-laki yang tulisannya bagus).
Lafald اَلْحَسَنُ  tidak menjelaskan sifatnya اَلرجُلُ  akan tetapi menyifati    حَطُهُ
Na’at sababy wajib mengikut man’utnya hanya dalam hal I’rob (yakni rofa’, nashob, jar), ta’rif dan nakiroh.
Sedangkan keberadaan na’at wajib ifrod. Untuk ta’nitsnya dan tadzkirnya mengikuti keadaan fa’ilnya, apabila fa’ilnya muannats maka na’at/sifat di ta’nitskan, apabila fa’ilnya mudzakar maka na’at/sifat di tadzkirkan sebagaimana fi’il tergantung keadaan fa’ilnya. 
Contoh : جَاءَ الرَجُلُ الكَرِيْمُ أَبُوْهُ (telah datang laki-laki yang ayahnya mulia).[2]

2.   Pembuatan Na’at
Lafazh-lafazh yang biasa ditarkib na’at terbuat dari:
1)   Isim Musytaq
Adalah isim yang menunjukkan makna pekerjaan atau sifat serta pelakunya, dan menyimpan maknanya fi’il serta hurufnya.
Seperti:
a.    Isim fa’il
Contoh:  هَذَا رَجُلٌ ضَارِبٌ عَبْدًا (ini laki-laki yang memukul hamba sahaya)
b.    Isim maf’ul
Contoh: هَذَا عَبْدٌ مَضْرُوْبٌ (ini hamba sahaya yang dipukul)
c.    Isim tafdhil
Contoh: مَرَرْتُ بِرَجُلٍ اَعْلَمُ مِنْكَ (saya telah bertemu laki-laki yang lebih alim dari kamu)
d.   Sifat musyabbihat
Contoh: رَأَيْتُ رَجُلاً حَسَنَ الْوَجْهِ (saya melihat laki-laki yang tampan wajahnya)
e.    Amtsilah mubalaghoh
Contoh: هَذَا رَجُلٌ ضَرَابٌ (ini laki-laki yang sering memukul)
2)   Lafazh Muawwal
Adalah lafalzh yang tidak bisa ditasrif yang memiliki makna yang dimiliki lafazh musytaq, dan mengandung makna fi’il, tidak hurufnya.
Seperti:
a.    Isim isyaroh.
Contoh:أَى الْحَضِرِ  مَرَرْتُ بِزَيْدٍ هَذَا  (saya telah berjumpa zaid yang ini)
b.    Isim maushul.
Contoh:   مررت بزيد الذى قام أى المعلوم(aku telah berjumpa zaid yang berdiri)
c.    Isim nisbat (isim yang kemasukan ya’ nisbat).
Contoh: مررت برجل دِمَشْقِيٍ اى المنسوب بدمشق  (aku telah berjumpa laki-laki bangsa Damaskus)
d.   Isim jamid yang dimaksud arti majaz.
Contoh:  رَجُلاً اَسَداً اى شُجَاعًارايت  (aku telah melihat laki-laki pemberani)
e.    Mashdar.
Contoh: جَائَنِى رَجُلٌ عَدْلٌ اى عَادِلٌ  (telah datang padaku seorang laki-laki yang adil)
f.     Jumlah (baik fi’liyah maupun ismiyyah).
Contoh: قُواْ يَوْمًا تُرْجَعُوْنَ فِيْهِ اِلَى الله اى رَاجِعِيْنَوَاتَ  (takutlah pada hari kiamat yang mana kamu akan kembali kepada Allah pada hari itu)
رَاَيْتُ رَجُلًا هُوَ مَضْرُوْبٌ اى الْمَضْرُوْبُ  (saya melihat zaid yang dipukul).[3]



[1]   Abu An’im, Al-Jurumiyyah, (Jawa Barat: Mu’jizat Group, 2009), hlm. 214.
[2]  Ibid, hlm. 216-217.
[3] Ibid, hlm. 217-218.